HEADLINE

Sabtu, 12 November 2016

Selamat Hari Ayah

Selamat Hari Ayah (12 November 2016)..

Ayah, saya manggilnya "Bapak"..
Yaa,, teringat lagi saat alm.Bapak meninggal pada 20 Mei 2016 silam.
Pedih sangat pada waktu itu, sempat gak percaya akan berakhir begini.

Awalnya alm.Bapak sudah sakit lebih dari 10thn, beliau stroke ringan karena jatuh di tambah asam urat.
Selama beliau masih hidup, saya sangat ingin seperti beliau, bisa melakukan segala hal. Saya selalu mempelajari apapun yg beliau kerjakan.
Meskipun alm. Bapak di kenal galak sama anak-anaknya, tapi beliau sangat peduli.
Pernah suatu waktu di tahun 1998 (Krismon), keadaan ekonomi di rumah sangat sangat kering.
Akhirnya alm.Bapak nyuruh saya jual sepeda Federal (sepeda kesayangan dari kampung Klaten) buat di jual.
Alm.Bapak nyuruh jual Rp 15,000 (Wow.., murah banget yoo). Tapi akhirnya cuma laku Rp 10,000 dan uangnya di pakai buat beli makan.

Banyak kenangan menarik sama alm.Bapak, beliau bisa melakukan semua pekerjaan. Mobl angkotnya rusak di benerin sendiri, bangun rumah sendiri cuma di bantu anak2nya buat bawa air atau ngaduk semen.
Alm.Bapak benar-benar lelaki luarr biasa, makanya saya selalu bangga punya Bapak Super.

Tapi namanya manusia hidup, pasti semua akan kembali kepadaNya cepat atau lambat.
Alm.Bapak kena stroke ringan setelah 3x jatuh, sebelumnya beliau ada penyakit asam urat. Beberapa kali metode penyembuhan udah di lakukan tapi hasilnya nihil.
Kalo pas ngobrol, alm.Bapak selalu bilang "kalo Bapak udah sehat, bapak mau narik lagi..."
Obrolan selalu mau kerja..kerja..kerja.., beliau merasa sangat bertanggung jawab kepada keluarga.

Sampai pada hari kamis, 13 Mei 2016, Ibu ngasih informasi ke Puput (adik perempuan) kloa alm.Bapak jatoh lagi, kali ini tangan kiri patah dan susah buat nelan makanan.
Saya sempat liat beliau, tapi gak terlalu memperhatikan karena mau liat rumah kontrakan yg mau saya tempati. Jujur, saya sangat menyesal pada saat itu.
Dapet informasi dari Puput klo alm.Bapak di bawa ke RS Fatmawati pada Sabtu, 14 Mei 2016. Saya langsung hubungi Kakak2 yg ada di luar kota, dan ternyata mereka sudah duluan ada di rumah.

Malamnya saya tengok alm.Bapak, kondisi beliau tidur puless banget. Saya pikir cuma tidur biasa, tapi aIwan (Abang tertua) BBM saya klo sampe jam 12 siang blm sadar juga dan akhirnya harus masuk ICU.
kami berembuk buat pembayaran Rumah Sakit mau patungan. Tapi Alhamdulillah, RS Fatmawati nerima Asuransi Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari pemerintah.
Singkat cerita, tgl 19 Mei 2016 malam, saya di suruh langsung ke RS sama ka Rina (Kaka perempuan). Saya udah filling gak enak.
Sampe RS cuma ada Ibu, Sigit, Anjar dan Kampleng.
Sigit sambil jalan nebus obat udah sambil nangis, dokter bilang ke saya "Kadar Oksigen dlm darah Bapak udah gak ada, kemungkinan malam ini Kritis, kemungkinan terburuk berhentinya detak jantung dan nafas.., berdo'a aja semuanya di tangan Allah.."

Saya antara percaya dan nggak,, saya berharap mukzizat datang. ternyata Allah berkehendak lain, selang masa kritis antara jam 00.00 sampe 00.15 akhirnya dokter menyatakan klo Bapak udah gak ada.
Ibu, Sigit, Anjar, dan kampleng langsung nangis, tapi saya masih blm percaya. Saya dekati jasad alm.Bapak sambil saya pegang berharap jantungnya berdetak lagi, tapi ternyata nggak. Bapak meninggal..
Saya sontak nangis karena gak tahan lagi buat jaim.
Sampe di rumah saya coba buat tegar, gak terkesan sedih di depan istri, tapi ternyata gak bisa.

Semalaman suntuk saya dan keluarga baca Yassiin di sekitar jasad alm.Bapak. Sampai saat mandiin, sholat jenazah dan sampai ke pemakaman, Alhamduliilah semua lancar.
Kata Pak Ustadz, meninggal di hari Jum'at insya Allah nasibnya baik, Amiinn ya Robb.

Harapan saya, mudah-mudahan Allah selalu memberi kemudahan kepada Bapak disana, jauhkan Bapak dari siksa kubur, jauhkan dari fitnah kubur, di lapangkan dan di sejukkan sampai hari kebangkitan tiba.
Ndung cuma bisa mendo'akan Bapak, karena belum bisa ngasih sesuatu yg bisa di banggakan selama Bapak masih hidup.

Sekian untuk Cerita tentang Hari Ayah dari Saya (Agung Nugroho bin Salimin bin Abdul Hamid).
Mudah-mudahan yg baca cerita saya ini bisa ikut mendo'akan dan membacakan Al-Fatihah buat alm.Bapak saya (Salimin bin Abdul Hamid).

Terima Kasih sudah berkunjung, semoga kiita selalu di berikan kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT.

Senin, 07 November 2016

Tentang Muhabalah

Namanya gak pernah belajar, selalu ketinggalan sesuatu yg penting hehehee..
Dari obrolan sama kawan-kawan di Sabtu malam kemarin (05 Nov 2016), sempet ngomongin masalah kerjaan, masalah Demo tgl 04 Nov 2016, sampe bahas politik segala, dan cerita pengalaman pribadi.
Ada 1 hal yg jadi perhatian saya, saat kawan saya (Sandy Noviar) membahas tentang Mubahalah. Saya cari-cari di mbah gugel, akhirnya nemu juga artikel yg bisa saya kopi-paste hehehee..
Berikut sedikit hal tentang Mubahalah..

Kata mubahalah [arab: المباهلة] turunan dari kata al-Bahl [arab: البَهْل] yang artinya laknat. 
Dalam Lisan al-Arab dinyatakan,

البَهْل: اللعن، وبَهَله الله بَهْلاً أي: لعنه، وباهل القوم بعضهم بعضاً وتباهلوا وابتهلوا: تلاعنوا، والمباهلة: الملاعنة

Al-Bahl artinya laknat. Kalimat ‘bahalahullah bahlan’ artinya Allah melaknatnya. Kalimat ‘baahala al-qoumu ba’dhuhum ba’dha’ artinya saling melaknat satu sama lain. Al-Mubahalah berarti Mula’anah (saling melaknat). (Lisan al-Arab, 11/71)

Ar-Raghib al-Asfahani mengatakan,

والبهل والابتهال في الدعاء الاسترسال فيه، والتضرع؛ نحو قوله ـ عز وجل ـ: {ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ} [آل عمران: 61]، ومن فسر الابتهال باللعن فلأجل أن الاسترسال في هذا المكان لأجل اللعن

Al-Bahl dan Ibtihal dalam doa, artinya bersungguh-sungguh tanpa batas dalam berdoa. Seperti disebutkan dalam firman Allah, (yang artinya), “Kemudian kita melakukan ibtihal, dan kita tetapkan laknat Allah untuk orang yang berdusta.” (QS. Ali Imran: 61). Ulama yang menafsirkan ibtihal dengan laknat karena umumnya orang lepas kontrol ketika itu, disebabkan melakukan laknat. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 63).

Kesimpulannya, Mubahalah artinya doa dalam bentuk melaknat dengan sungguh-sungguh.




Mubahalah dalam al-Quran

Mubahalah termasuk salah satu metode dakwah yang disebutkan dalam Al-Quran. Metode ini digunakan untuk melawan orang kafir dan orang musyrik yang bersikap sombong, dengan tidak mau menerima kebenaran, tetap kukuh di atas kebatilan dan kesesatan. Padahal telah disampaikan dalil-dalil yang sangat jelas, yang menunjukkan kesesatannya.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menantang mubahalah orang-orang nasrani terkait aqidah yang benar tentang Nabi Isa. Karena mereka tidak menerima kebenaran, setelah beliau menjelaskan bahwa Isa bukan anak tuhan.

Allah berfirman,

إنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ . الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُن مِّنَ الْـمُمْتَرِينَ . فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (*) (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (*) Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 59 – 61).


Sabab Nuzul Ayat
Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan keterangan dari Ibnu Ishaq dalam sirahnya, bahwa suatu ketika kota Madinah kedatangan tamu orang-orang nasrani dari daerah Najran. Diantara mereka ada 14 orang yang merupakan pemuka dan tokoh agama di Najran. dari 14 orang itu, ada 3 orang yang menjadi tokoh sentral: Aqib, gelarnya Abdul Masih. Dia pemuka kaum, yang memutuskan hasil musyawarah masyarakat. as-Sayid, dia pemimpin rombongan. Nama aslinya al-Aiham. Dan yang ketiga Abul Haritsah bin Alqamah. Dulunya orang arab, kemudian pindah ke Najran dan menjadi uskup di sana.

Ketika mereka sampai di Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat asar. Mereka kemudian masuk masjid dan shalat dengan menghadap ke timur.

As-Sayid dan Aqib menjadi jubir mereka di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kalian mau masuk islam?” tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kami telah masuk islam sebelum kamu.” Jawab mereka.

“Dusta, kalian bukan orang islam disebabkan: kalian menganggap Allah punya anak, kalian menyembah salib, dan makan babi.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Jika Isa bukan anak Allah, lalu siapa ayahnya?” Serombogan orang-orang nasrani itupun serempak mendebat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pertanyaan itu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tenang menjawab,

“Bukankah kalian tahu yang namanya anak, pasti punya kemiripan dengan bapak?”

“Ya, tentu.” Jawab mereka.

“Bukankah kalian yakin, Allah yang mewujudkan segala sesuatu, menjaganya dan memberi rizqi mereka?”

“Ya, kami yakin itu.” Jawab mereka.

“Apakah Isa punya salah satu dari kemampuan tuhan itu?”

“Tidak.” Jawab mereka.

Beliau melajutkan sabdanya,

“Allah menciptakan Isa di dalam rahim sesuai yang Dia kehendaki. Tuhan kita tidak butuh makan, minum, dan tidak berhadats.”

“Ya, benar.” Jawab mereka.

“Bukankah Isa tumbuh di rahim ibunya sebagaimana para wanita mengalami hamil, kemudian dia melahirkan sebagaimana para wanita melahirkan anaknya?”

“Lalu bagaimana mungkin kalian meyakini dia anak tuhan?”

Kemudian mereka terdiam dan Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/50).

Mengapa harus Mengumpulkan Keluarga

Allah berfirman,

فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 59 – 61).

Dalam ayat di atas, Allah mengajarkan bahwa ketika bermubahalah, hendaknya seseorang mengumpulkan keluarganya, anak dan istrinya. Mereka didatangkan di majlis mubahalah, kemudian saling mendoakan laknat bagi siapa yang berdusta.

Sa’d bin Abi Waqqash menceritakan,

ولما نزلت هذه الآية: {فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ} دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم علياً وفاطمة وحسناً وحسيناً فقال: اللَّهُمَّ هؤُلاءِ أَهْلِي

Ketika turun ayat ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Kemudian beliau bersabda, ‘Ya Allah, mereka keluargaku.’ (HR. Ahmad 1630, Muslim 6373, dan Turmudzi 2999).

Tujuan mengumpulkan keluarga, anak, istri ketika mubahalah, bukan menimpakan dampak buruk Mubahalah kepada mereka. Karena dampak buruk dari laknat ketika Mubahalah, hanya mengenai pelaku. Tujuan mengumpulkan mereka adalah untuk semakin meyakinkan dan menunjukkan keseriusan diantara mereka untuk melakukan mubahalah.


Orang Nasrani Tidak Jadi Mubahalah

Hudzaifah menceritakan,

Aqib dan as-Sayid menjadi wakil mereka maju menemui Nab Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hendak melakukan mubahalah. Tiba-tiba salah satu diantara mereka berpesan, ‘Jangan mubahalah. Demi Allah, jika benar dia nabi, kemudian dia melaknat kita, selamanya kita tidak akan selamat, juga keturunan kita.’

Kemudian mereka menawarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami menerima tantangan kamu. Tunjuk satu orang yang amanah diantara kalian.”

“Baik, akan saya tunjuk satu orang yang sangat amanah diantara kami.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para sahabatpun menjadi terheran. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk,

“Majulah wahai Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Ketika beliau berdiri, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا أَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ

Dia adalah orang kepercayan umat ini. (HR. Bukhari 4380).


Hasil Mubahalah
Contoh ungkapan Mubahalah, si A dan si B berseteru dalam masalah. Mereka masing-masing mengaku yang benar. Ketika Mubahalah, mereka saling mengatakan,

‘Demi Allah saya yang benar. Dan saya siap mendapat laknat Allah, jika saya dusta.’

Bagaimana hasilnya? Laknat akan ditimpakan kepada orang yang berdusta diantara mereka. Ibnu Hajar mengatakan,

ومما عُرف بالتجربة أن من باهل وكان مبطلاً لا تمضي عليه سنة من يوم المباهلة، وقد وقع لي ذلك مع شخص كان يتعصب لبعض الملاحدة فلم يقم بعدها غير شهرين

Berdasarkan pengalaman, orang yang melakukan mubahalah di kalangan pembela kebatilan, tidak bertahan lebh dari setahun sejak hari mubahalah. Itu pernah saya alami sendiri bersama seorang yang memiliki pemikiran menyimpang, dan dia tidak bertahan hidup lebih dari 2 bulan. (Fathul Bari, 8/95)

Ibnu Abbas mengomentari orang nasrani Najran,

وَلَوْ خَرَجَ الَّذِينَ يُبَاهِلُونَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَرَجَعُوا لاَ يَجِدُونَ مَالاً وَلاَ أَهْلاً

Andai ada orang yang berani bermubahalah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka semua akan pulang, dan semua harta dan keluarganya akan hilang habis. (HR. Ahmad 2264).

Shiddiq Hasan Khan pernah mengatakan,

أردت المباهلة في ذلك الباب ـ يعني باب صفات الله تعالى ـ مع بعضهم فلم يقم المخالف غير شهرين حتى مات

Saya ingin mubahalah dengan sebagian mereka dalam masalah aqidh tentang sifat Allah. Dan orang yang menyimpang tidak bertahan lebih dari dua bulan, hingga dia mati. (Aun al-Bari, 5/334)


Kisah Mubahalah dengan Mirza Ghulam Ahmad
Tahukah anda, ternyata Mirza Ghulam Ahmad mati di WC dalam kondisi yang mengenaskan. Mayatnya berbau busuk, hingga semua orang menjauh darinya. Mirza Ghulam Ahmad mati setelah Mubahalah.

Syaikh Tsanaullah al-Amaritsari berdebat dengan Ghulam Ahmad. Setelah Ghulam berada di posisi kalah, akhirnya depat dipungkasi dengan Mubahalah. Syaikh mengatakan,

غلام أحمد من كان على الباطل أماته الله قبل الصادق منهما

Wahai Ghulam Ahmad, siapa diantara kita berada di atas kebatilan, maka Allah akan segera mematikan sebelum orang yang jujur (lawan debatnya) mati.


Apa hasil Mubahalah?
Pendusta diantara mereka mati lebih dahulu. Ghulam Ahlan mati di WC, terserang penyakit kolera, dan banyak orang menjauh darinya, karena tubuhnya mengeluarkan bau yang sagat tidak sedap. Sementara Syaikh Tsanaullah hidup hingga 40 tahun lagi.  (al-Qodiyaniyah, Ihsan Ilahi Dzahir, hl. 154)


Semoga bermanfaat....








Artikel asli ada di: 
https://konsultasisyariah.com/23525-apa-itu-mubahalah.html

NB:
Apabila ada yg salah, silahkan di ralat di kolom komentar, maklum saya masih belajar.
Saya sangat senang klo ada yg mau menambahkan atau berbagi ilmu lagi.